Wisata Anyaman Pandan Temukan Momentum di Masa New Normal

Menoreh/Arif Widodo – PRODUK KERAJINAN : Wisatawan mengunjungi pusat kerajinan anyaman pandan di Karanganyar, Kebumen.

Penulis : Arif Widodo

MENGANDALKAN produk anyaman pandan di Kebumen ternyata belum cukup untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Apalagi di masa pandemi ini mengalami penurunan hingga lebih dari 60 persen.
“Satu-satunya yang bisa diandalkan yakni menjadikannya sebagai wisata dengan menawarkan sebuah proses. Dan terobosan itu memiliki potensi besar,” kata salah satu pelaku wisata Sigit Asmodiwongso yang juga Manajer Roemah Marthatilaar Gombong, Kebumen.

Dijelaskan, perajin anyaman pandan di Kebumen sebagian besar hanya membuat bahan setengah jadi yang biasa disebut complong (lembaran anyaman berbentuk silinder).

Pusat kerajinan anyaman pandan telah dibuat kawasan yang mencakup lima desa di dua kecamatan. Tiga di antaranya masuk Kecamatan Karanganyar yaitu Desa Grenggeng, Pohkumbang, dan Wonorejo. Dua lagi Desa Penimbun dan Desa Karanggayam Kecamatan Karanggayam.

Perajin yang rata-rata ibu rumah tangga itu mencapai 5.000 orang. Mereka memanfaatkan waktu luang dengan menganyam pandan. Pemandangan kerap terlihat saat ibu-ibu menunggu anaknya sekolah sembari menganyammpandan. Untuk satu complong dikerjakan selama dua hari dengan harga Rp 8.000 percomplong. Selanjutnya dikumpulkan di pengepul kecil, pengepul besar dan dijual ke Tasikmalaya, Denpasar dan Yogyakarta.

“Jika bahan anyaman itu beli dengan harga Rp 4.000, maka tentu tak seberapa pemasukannya bagi perajin,” terang Sigit.

Sehingga, dengan menjual sebuah proses penganyamannya, maka wisata anyaman pandan memiliki potensi besar. Masa new normal pun menemukan momentumnya.

Sebagaimana prediksi Menpar Wishnutama terkait destinasi wisata yang berkembang setelah pandemi korona, yakni dengan konten lokal dan bukan massal, interaksi orang lokal serta memberi kepuasan batin. “Yang pas tentunya wisata yang menawarkan proses anyaman pandan,” jelas Sigit.

Selain proses menganyam itu sendiri, juga terdapat budidaya tanaman pandan hingga pemetikan daun dan penyiapan bahan anyamannya. Termasuk proses pembibitan tanaman pandan. Proses yang ada tersebut bisa dinikmati wisatawan.

Pembibitan tanaman pandan, kata Sigit, dilakukan di Desa Pohkumbang. Desa yang dipimpin Kades Sudiono itu memanfaatkan tanah kas desa yang dikelola BUMDes. Budidaya tanaman pandan tersebut sekaligus mengantisipasi kelangkaan pandan dan stabilitas harga.

Sigit yang menjadi pendamping wisata kawasan anyaman pandan pun tertarik dengan suasana desa yang masih asli. Di samping itu akses yang mudah, hanya sekitar 2 kilometer dari pusat Kecamatan Karangnayar.

Saat sebelum pandemi korona, Sigit yang membawa wisatawan ASEAN ternyaya mengundang kesan mendalam dari pengunjung asal Singapura yang tidak mau pulang. “Kata dia menganyam pandan itu bikin kecanduan. Seperti di Eropa yang merajut benang bisa digunakan untuk terapi mental,” ungkapnya.

Sigit yang Wakil Ketua Yayasan Tali Pakarti Nusantara itu menyebut wisata anyaman pandan tidak kalah menarik dengan Paseban Bayat, Sleman, yang menawarkan daya tarik pembuatan gerabah. Produk gerabah yang lesu pun bangkit kembali setelah dibuat terobosan menjadi wisata yang menyajikan proses pembuatan gerabah.

Lebih lanjut, ketika pembuatan anyaman pandan juga dijadikan sebagai wisata, maka perajin memiliki produk tambahan. “Bukan sekedar produknya, tapi prosesnya juga bisa dijual,” terang Sigit.

Terobosan itu pun membuka pasar lebih luas dan menarik minat anak muda sekaligus regenerasi.
Mengingat, pembuatan anyaman pandan selama ini berjalan turun temurun dan masih kurang diminati anak muda. Karena itu, pihaknya terus mendorong agar anyaman pandan sebagai wisata potensial yang menarik ke depannya.

Mengenai produk anyaman pandan, Kebumen pernah mengalami kejayaan sebagai eksportir pada1940-1950. Ekspor dalam bentuk topi anyaman pandan itu diprakarsai oleh Samirin Notoprawiro. Selanjutnya menularkan kepada perajin mengenai standar kualitas.

Saat ini terdapat kelompok yang memproduksi anyaman pandan di Desa Grenggeng. Untuk produk anyaman pandan yang dikelola BUMDes berada di Penimbun. Adapun perseorangan antara lain milik Suwito dan Eko Daningsih, yang merupakan generasi kedua produk anyaman pandan Pancuran Emas.

Produknya topi, tas, aneka boks dan aksesoris. Dijelaskan Sigit, wisata anyaman pandan jelas tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Tempat tersebut tetap diintegrasikan dengan destinasi wisata lain seperti alam dan kita tua Gombong. “Kelemahan kita masih berjalan sendiri-sendiri dan ini tentu menjadi pekerjaan rumah bersama,” terang Sigit.

Sementara itu, Kabid Perdagangan pada Disperindag Kebumen Sri Wahyuroh mengaku terus berupaya mengembangkan kerajinan anyaman pandan di Kebumen. Bahkan untuk dua produsen anyaman pandan Kebumen mendapat pendampingan dari pusat. “Ke depannya memang potensial untuk dikembangkan ke pariwisata. Apalagi kawasan anyaman pandan merupakan bagian dari Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong,” ucapnya. (K5-H67)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Meniti Wisata Mina Padi di Samberembe

Jum Jun 5 , 2020
Penulis: Amelia Hapsari Desa wisata telah dikembangkan di banyak daerah. Namun kenyataan itu seolah tidak menyurutkan semangat untuk terus membuka rintisan desa wisata. Seperti yang dilakukan masyarakat Dusun Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Kampung Mina Padi namanya. Niat serius mereka mewujudkan gagasan diawali dengan menjadi tuan rumah Pekan Daerah […]

Kamu mungkin suka