Sejarah Peninggalan Kerajaan Majapahit

MALANG – Tertarik melihat peninggalan kerajaan Majapahit? Cobalah berkunjung ke Museum Ganesha Malang. Lokasi museum yang berada satu lokasi dengan spot wisata air di daerah Balearjosari, Kota Malang ini memamerkan berbagai macam koleksi mulai keris peninggalan era Majapahit, peralatan rumah tangga, hingga kendi-kendi yang digunakan untuk upacara keagamaan.

Beberapa koleksi Museum Ganesya juga datang dari permukiman – permukiman kuno peninggalan Kerajaan Majapahit. Tampak beberapa barang-barang milik warga di era Majapahit di ibukota hingga daerah-daerah lain yang tersebar di berbagai kota di Jawa Timur.

Koleksi benda-benda dari peninggalan Kerajaan Majapahit ini menjadi koleksi bersifat tetap dari Museum Ganesya yang berada di kompleks Perumahan Graha Kencana Blimbing, Kota Malang.

Pemandu senior Museum Ganesya Amri Bayu mengungkapkan, ada dua jenis koleksi dari museum yakni benda-benda yang sifatnya tetap seperti koleksi peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Sedangkan untuk benda-benda dengan jenis koleksi temporari atau tergantung waktunya mulai dari segala macam benda-benda wayang.

Benda-benda yang berhubungan dengan peninggalan Kerajaan Majapahit disebut Amri, berada di lantai dua dari tiga lantai lokasi museum. Bangunan museum ini sendiri menyatu dengan bangunan loket wahana permainan air yang dikelola oleh perusahaan yang sama.

“Di lantai dua ini ada benda-benda sejarah dari beberapa kerajaan, yang banyak dari Majapahit dan Singasari. Ini benda-benda yang berhubungan dengan keramik atau alat-alat logistik zaman dahulu, terutama perdagangan era antarkerajaan.

Amri Bayu menceritakan, keramik-keramik ini merupakan koleksi asli yang diperoleh dari hasil penelitian dan penitipan dari Museum Trowulan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XI, yang dahulunya bernama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Trowulan, Mojokerto. Dimana masing-masing keramik memiliki masa waktu yang berbeda-beda.

Keramik-keramik ini pun saat ditemukan disebutnya, tidak selalu dalam keadaan utuh dan mampu diidentifikasi. Tak sedikit keramik dan peralatan sehari-hari yang karena berbagai macam peristiwa membuat keramik pecah jadi berkeping-keping.

“Dulu masyarakat Singasari Majapahit dan sebagainya itu berdagang tukar tambah, atau tukar barang dengan kerajaan-kerajaan dari Cina, Kamboja, Thailand, dan sebagainya,” tuturnya.

“Artefaknya seperti ini ada keramik, ada gentong, ada fragmen-fragmen pecahan piring, itu membuktikan kalau dulu memang perdagangan itu berkembang sangat pesat. Nenek moyang kita sudah berinteraksi dengan orang-orang di luar Nusantara,” katanya.

Jika kamu berminat melihat benda koleksi cagar budaya di Museum Ganesya, anda dapat berkunjung ke Museum Ganesya pada pukul 08.00 sampai 16.00 WIB, dan pukul 18.00 sampai pukul 23.00 WIB dengan harga tiket Rp 25.000 setiap hari kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Peninggalan Kerajaan Gowa

Rab Sep 20 , 2023
Benteng Somba Opu adalah peninggalan sejarah dari Kerajaan Gowa. Benteng ini dibangun pada abad ke-16 dan pernah menjadi saksi perjuangan rakyat Kerajaan Gowa dalam menghadapi Belanda. Benteng Somba Opu terletak di Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sejarah Benteng Somba Opu Melansir laman Kemdikbud, Benteng Somba […]

Kamu mungkin suka