Sejarah Muharam dan Terjadinya Tragedi Karbala

Sejarah Muharam dan Terjadinya Tragedi Karbala Suaralama.id – Tahun baru Islam atau tepatnya 1 Muharam 1443 Hijriah jatuh pada 10 Agustus 2021 Masehi. Di hari itu umat Muslim di penjuru dunia merayakannya dengan beragam tradisi.

Namun, yang paling dianjurkan ialah memanjatkan doa, berpuasa dan perbanyak dzikir kepada Allah SWT. Bulan Muharam sendiri merupakan bulan pembuka dalam penanggalan Hijriah. Kata “Muharam” dalam bahasa Arab berarti “yang dilarang”, dilansir dari Muslim Hands.

Mengenai bulan Muharam ini, Allah SWT berfirman dalam Alquran surah At-Taubah ayat 36: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” (Q.S At-Taubah [9]: 36). Berdasarkan ayat di atas yang dimaksud empat bulan haram, dilansir dari NU Online ialah Muharram, Zulkaidah, Zulhijah dan Rajab.

Pada bulan tersebut aktivitas tertentu tak boleh dilakukan, utamanya peperangan. Bulan Muharam memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam di masa lampau. Selain sebagai bulan berkah, bulan Muharam juga sebenarnya bulan berkabung. Cucu Rasulullah SAW, Husen bin Ali RA dibunuh oleh pasukan Khalifah Yazid bin Muawiyah karena diduga ingin mengkudeta jabatannya.

Perseteruan keduanya bermula ketika sebagian umat Islam pada masa itu tidak puas dengan gaya kepemimpinan Yazid. Kemudian penduduk Kufah mengharapkan Husen mengambil alih jabatan tersebut. Yazid yang tak terima dengan hal itu lantas memata-matai Husen yang kala itu berkedudukan di Mekkah.

Meskipun telah kehilangan dua utusannya, yakni Muslim bin ‘Aqil dan Qeis bin Mashar As-Saidawiy, Husen tetap gigih dan tak mengendurkan keinginannya untuk menuju Kufah. Ia bersama rombongan akhirnya bertolak ke Kufah pada 18 Zulhijah tahun 60 Hijriah. Pada 2 Muharam 61 Hijriah, saat rombongan Husen berangkat menuju Kufah, mereka dihadang dan dikepung selama delapan hari oleh 4000 bala tentara Yazid yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka membekali diri dengan persenjataan lengkap.

Husen dibunuh usai rombongannya yang berjumlah 72 orang terlebih dahulu gugur. Rombongan yang membersamai Husen terdiri dari 32 prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, sisanya anak-anak dan perempuan.

Peristiwa tragis yang menyayat hati itu terjadi pada 10 Muharam, hari Asyura 61 Hijriah atau tepatnya 10 Oktober 680 Masehi. Kalender Hijriah Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah tak hanya sebagai tonggak peradaban Islam, tetapi juga mengilhami penamaan kalender yang saat ini digunakan oleh seluruh umat Muslim yakni kalender Hijriah.

Peristiwa tersebut dinilai sebagai awal masa keemasan penyebaran Islam di Jazirah Arab. Meskipun menjumpai berbagai rintangan bahkan nyawanya juga terancam, Rasulullah tetap teguh menyebarkan ajaran agama yang rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang bagi semesta alam). Orang-orang Quraisy tidak suka dan tak mau menerima ajaran agama yang dibawa Rasul.

Mereka melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan usaha tersebut dengan cara ingin membunuh Rasulullah. Kalender hijriah sendiri baru digunakan secara masal di masa Kekhalifahan Rasyidin, khususnya di tampuk khalifah Umar bin Khattab. Ide perumusannya bermula ketika gubernur Abu Musa al-Asy’ari mengalami kesulitan dalam pengarsipan surat yang ditulis tanpa dicantumkannya tahun. Lalu Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan orang-orang terkemuka dan pakar di masa itu untuk merumuskan penetapan kalender yang akan digunakan.

Pada saat perumusan, terjadi silang pendapat oleh para anggota musyawarah yaitu mengenai penetapan awal tahun dalam kalender Islam. Setidaknya ada lima usul yaitu agar tahun pertama dimulai ketika wafat Rasululullah, atau sejak peristiwa Isra Mi’raj, atau sejak Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, atau sejak kelahiran Rasulullah SAW, hingga usul Ali bin Abi Thalib agar kalender Islam dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

Usul Ali bin Abi Thalib kemudian yang diterima anggota musyawarah. Sejak 8 Rabi’ul Awal 17 H, kalender Islam ditetapkan dan digunakan secara luas di bawah panji Kekhalifahan Rasyidin. Kalender hijriah mulai dipakai di masa Umar bin Khattab. Karena berpatokan pada tahun hijrah Nabi Muhammad SAW, kalender itu dikenal dengan sebutan penanggalan hijriah. (Tir/zal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Aura Religi Kyai Langgeng dan Tidar

Kam Feb 10 , 2022
Di Kota Magelang, Taman Kyai Langgeng dan Gunung Tidar menjadi magnet. Ribuan orang berkunjung ke dua tempat itu tiap hari. Untuk menikmati alam juga untuk mengenang sejarahnya. Nama Taman Kyai Langgeng sebagai tempat wisata dan rekreasi di Kota Magelang memiliki nilai sejarah perjuangan saat masa penjajahan kolonial Belanda. Kyai Langgeng […]

Kamu mungkin suka