Sejarah Gauk Plengkung Gading: Awalnya Dibunyikan untuk Sirine Bahaya, Kini Penanda Buka Puasa

Sejarah Gauk Plengkung Gading: Awalnya Dibunyikan untuk Sirine Bahaya, Kini Penanda Buka Puasa

MENOREH.CO, Yogyakarta – Sirine atau Gauk Plengkung Gading di Jalan Patehan Kidul Nomor 04, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta , sejak 2013 beralih fungsi sebagai penanda buka puasa , sekaligus peringatan-peringatan hari besar atau hari perjuangan Indonesia.

Takmir Masjid Nurul Islam, Muhammad Sofyan, mengatakan bentuk Gauk Plengkung Gading terdiri atas tiga terompet yang melingkar, tiang gauk terbuat dari logam, dalam pengoperasiannya memerlukan aliran listrik, dan terdapat beberapa komponen lain.

“Cara menghidupkan gauk tersebut, pertama, akan ada alarm khusus dari Masjid Nurul Islam saat menjelang buka puasa . Kemudian, Gauk Plengkung Gading dihidupkan oleh panitia Masjid Nurul Islam yang telah ditugaskan,” kata Sofyan.

Katanya, suara itu dapat mencapai radius satu setengah kilometer. Sofyan mengucap, sebelum terdapat gedung-gedung bertingkat di dekat Gauk Plengkung Gading, suara gauk dapat mencapai radius lima kilometer.

Ia menyampaikan, tanggapan dari beberapa warga dekat gauk tersebut, merasa senang terdapat gauk di daerahnya. Terkadang beberapa warga di sana mendekati gauk dan menunggu gauk dibunyikan sembari ngabuburit menjelang buka puasa.

Sofyan menceritakan, gauk sudah ada sejak 1949. Katanya, dahulu gauk merupakan penanda bahaya serangan udara zaman penjajahan Belanda.

Kemudian, ia menjelaskan, pada 1970-an gauk dipergunakan sebagai penanda setiap memperingati momen perjuangan Indonesia. Dia menyampaikan, gauk juga pernah dipergunakan sebagai penanda kegiatan Keraton.

Kemudian, ia menjelaskan kembali, beberapa tahun berikutnya, gauk difungsikan sebagai penanda buka puasa dan memperingati momen perjuangan Indonesia, seperti Hari Kemerdekaan Indonesia dan Serangan Umum 1 Maret.

Saat memperingati momen perjuangan Indonesia, sirine akan dihidupkan pukul 10.00 WIB.Kecuali, saat Serangan Umum 1 Maret, akan dihidupkan pukul 06.00 WIB. Walau demikian, Sofyan menyampaikan, beberapa tahun lalu gauk tidak difungsikan sebagai penanda buka puasa.

Namun, Sofyan menceritakan, saat 2013, Takmir Masjid Nurul Islam memiliki inisiatif untuk mengaktifkan dan memfungsikan kembali sebagai tanda buka puasa dan terus dipergunakan sebagai memperingati momen perjuangan Indonesia sampai saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sejarah Balon Udara Wonosobo Ada Sejak Masa Penjajahan

Sel Apr 16 , 2024
MENOREH.CO, Wonosobo – Menurut informasi yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, penemuan balon tradisional di Wonosobo dimulai sekitar pertengahan dekade 1920-an. Sumber masyarakat menyebutkan bahwa penemunya adalah Atmo Goper (1898-1978), seorang ahli pangkas rambut dari Krakal Tamanan, Kelurahan Karangluhur, Kecamatan Kertek. Atmo juga dikenal sebagai pengrajin lampion, […]
Sejarah Balon Udara Wonosobo Ada Sejak Masa Penjajahan

Kamu mungkin suka