Sejarah Gajah Mada, Kelahiran Hingga Orang Tuanya

Menoreh.co – Tidak ada yang tahu dengan pasti Gajah Mada dilahirkan, kecuali ayah dan ibunya sendiri. Hal ini disebabkan tdak ada sumber-sumber tertulis yang menyebutnya dengan jelas, tegas, dan pasti. Beberapa babad mengungkap kelahiran Gajah Mada dengan ulasan yang jauh di atas logika.

Namun, Mohammad Yamin, tokoh pergerakan Indonesia, berani menyebut asal usul Gajah Mada. Pendapat Yamin itu kemudian diungkap kembali oleh Agus Aris Munandar, doktor dan pakar arkeologi dari Universitas Indonesia.

Kedua tokoh ini menyebut Gajah Mada lahir di sekitar hulu Sungai Brantas serta kaki Gunung Kawi dan Gunung Arjuna. Agus Aris Munandar menyebutkan Gajah Mada lahir di Pandaan, sebuah kota kecil yang sedang berkembang di Lereng Gunung Welirang Arjuna.

Pandaan atau Pandakan (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur), pernah dicatat sebagai tempat istimewa oleh Pararaton, saat luluh lantaknya Singhasari dan tumbuhnya Majapahit.

Ayah Gajah Mada kemungkinan bernama Gajah Pagon, yang mengiringi Raden Wijaya ketika berperang melawan pengikut Jayakatwang dari Kediri. Gajah Pagon tidak mungkin orang biasa, bahkan sangat mungkin anak dari salah satu selir Kertanagara karena dalam Kitab Pararaton, nama Gajah Pagon disebut secara khusus.

Saat itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan dititipkan kepada seorang Kepala Desa Pandakan. Menurut Agus, Gajah Pagon kemungkinan selamat kemudian menikah dengan putri Kepala Desa Pandakan dan akhirnya memiliki anak, yaitu Gajah Mada yang mengabdi kepada Majapahit.

Gajah Mada kemungkinan juga memiliki eyang yang sama dengan Tribhuwana Tunggadewi. Bedanya, Gajah Mada cucu dari istri selir, sedangkan Tribhuwana Tunggadewi adalah cucu dari istri resmi Kertanagara. Dengan demikian, tidak mengherankan dan dapat dipahami Gajah Mada sangat menghormati Kertanagara.

Kertanegara adalah eyangnya sendiri. Hanya keturunan Kertanegara saja yang akan dengan senang hati membangun caitya (bangunan suci) berupa Candi Singasari untuk mengenang kebesaran leluhurnya itu. Konsep gagasan politik Dwipantra Mandala dari Kertanagara kemungkinan juga menginspirasi dan mendorong Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.

Mayoritas sumber-sumber menyatakan jika Gajah Mada lahir pada 1299 dan memiliki nama lain Jirnnodhara. Dia merupakan seorang panglima perang dan mahapatih Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh pada masa pimpinan Hayam Wuruk dan terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa.

Arti Nama Gajah Mada
Menurut mitologi Hindu, kata “gajah” dipercaya sebagai wahana (hewan tunggangan) dari Dewa Indra, sedangkan “mada” dalam bahasa Jawa Kuno artinya mabuk. Nama Gajah Mada ditafsirkan ke dalam dua sifat, yaitu sebagai wahana raja atau pelaksana perintah-perintah raja dan sebagai orang yang seakan-akan mabuk apabila menghadapi berbagai rintangan yang menghambatnya.

Prasasti Gajah Mada bertanggal 1273 Saka (1351 M), ditemukan di Singasari, Malang, Jawa Timur.

Dalam Prasasti Gajah Mada dituliskan bahwa Gajah Mada memiliki julukan lain, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara yang mungkin hanya dianggap sebagai gelar saja. Namun, dapat pula dianggap sebagai nama aslinya. Adapun Jirnnodhara sendiri memiliki arti “pembangun sesuatu yang baru” atau “pemugar sesuatu yang telah rusak/runtuh”.

Dalam pengertian harfiah, Gajah Mada adalah pembangun bangunan suci bagi Kertanegara yang semula belum ada. Namun, dalam pengertian kiasan dia dapat dipandang sebagai pemugar dan penerus gagasan Kertanegara dalam konsep Dwipantara Mandala.

Karier Gajah Mada
Gajah Mada memulai karirnya di Majapahit dengan menjadi seorang bekel (kepala pasukan) bhayangkara (pengawal raja) pada masa pemerintahan Prabu Jayanegara tahun 1309–1328. Menurut Pararaton, saat menjadi komandan pasukan khusus Bhayangkara, Gajah Mada berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara dan membawanya lari ke Desa Badander, serta berhasil memadamkan pemberontakan Ra Kuti.

Sebagai balas jasa, Jayanegara mengangkat Gajah Mada menjadi seorang patih di Kahuripan pada 1319–1321 untuk mendampingi Tribhuwana Tunggadewi. Namun, dua tahun kemudian dia diangkat menjadi patih untuk menggantikan Arya Tilam yang mengundurkan diri sebagai patih di Daha/Kediri.

Setelah Jayanegara mangkat pada 1329, Aryo Tadah atau Mpu Kewes selaku patih Majapahit ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dia mengajukan pengunduran diri kepada ibu suri Gayatri yang menggantikan kedudukan Jayanegara.

Mpu Kewes mengundurkan diri karena dirinya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Dia kemudian menunjuk Gajah Mada yang saat itu menjadi seorang patih di Kediri sebagai penggantinya. Namun, Gajah Mada tidak langsung menyetujuinya karena ingin memberikan sebuah jasa terlebih dahulu terhadap Majapahit dengan cara menaklukkan pemberontakan Keta dan Sadeng, yang saat itu sedang memberontak.

Setelah Keta dan Sadeng dapat ditaklukkan oleh Gajah Mada pada 1334, dia diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi (Perdana Menteri) secara resmi untuk menggantikan Mpu Kewes, yang menginginkan pensiun sejak 1329.

Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa. Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan yang dikemukakan pada upacara pengangkatannya menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit tahun 1334. Saat itu, Majapahit diperintah oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Isi Sumpah Palapa tersebut ditemukan dalam teks Jawa Pertengahan Pararaton yang berbunyi:

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa“.

Arti dari sumpah tersebut yaitu:

“Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, aku (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah aku (baru akan) melepaskan puasa“.

Pada saat sumpah itu diucapkan, banyak yang menertawakan dan meremehkan cita-cita Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara.

Adapun arti dari nama-nama tempat yang disebutkan dalam Sumpah Palapa tersebut adalah sebagai berikut:

Meskipun banyak orang ragu akan sumpah yang dia ucapakan, tetapi dia hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Gajah Mada melaksanakan politik penyatuan Nusantara selama 21 tahun, yakni antara tahun 1336 sampai 1357.

Gajah Mada memulai kampanye penaklukannya dibantu oleh Laksamana Nala dengan menggunakan pasukan laut ke daerah Swarnnabhumi (Sumatra) tahun 1339, Pulau Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), Semenanjung Malaya.

Selanjutnya, Gajah Mada bersama dengan Arya Damar pada 1343 menaklukan Bedahulu (di Bali), Lombok, dan sejumlah negeri di Kalimantan, seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Pada masa pemerintahan Majapahit dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk (1350–1389), Gajah Mada adalah mahapatih yang mengantarkan Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk jugalah, karier Gajah Mada semakin memuncak.

Dia terus melakukan penaklukan ke wilayah timur sampai tahun 1357, seperti Logadah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Namun, kegemilangan Gajah Mada pun meredup ketika terjadinya Perang Bubat pada 1357. Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada 1279 Saka atau 1357 Masehi pada abad ke-14, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Perang itu terjadi akibat perselisihan antara Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, akibat tidak seimbangnya antara pasukan Majapahit dengan pasukan Kerajaan Sunda yang mengakibatkan hampir seluruh rombongan Sunda tewas, termasuk Raja Sunda dan Putri Dyah Pitaloka.

Peristiwa Perang Bubat tersebut diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon, ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya sebuah lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu.

Niat dari pernikahan itu adalah untuk mempererat sebuah tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit) merupakan keturunan dari Dyah Lembu Tal dan Rakeyan Jayadarma (raja Kerajaan Sunda).

Alasan umum yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang mempunyai niat untuk memperistri perempuan tersebut dengan didorong oleh alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga Kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Mayang Sari.

Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini dikarenakan menurut adat yang berlaku di Nusantara saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu, ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, di antaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka, dengan diiringi prajurit menggunakan 200 kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal datang ke Kerajaan Majapahit, sebagaimana diceritakan dalam Kidung Sunda.

Namun, menurut tafsir kisah Panji Angreni oleh sejarawan Agus Aris Munandar (arkeolog Universitas Indonesia), Gajah Mada diperintahkan oleh Krtawarddhana (ayah Hayam Wuruk) untuk membatalkan pernikahan tersebut karena telah menjodohkannya dengan Indudewi, anak dari Rajadewi Maharajasa yang bekedudukan di Daha (Kediri).

Agus mengatakan jika Gajah Mada hanya perpanjangan tangan dari orang tua Hayam Wuruk, yang khawatir kedudukan permaisuri Majapahit jatuh ke tangan Dyah Pitaloka. Gajah Mada lantas menyarankan Hayam Wuruk untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan. Hal inilah yang membuat Kerajaan Sunda merasa dipermalukan, hingga akhirnya memilih berperang melawan Majapahit demi menjaga kehormatan.

Versi umum yang beredar di masyarakat menurut Kidung Sundayana, perang ini terjadi akibat ambisi Sumpah Palapa dari Gajah Mada. Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit.

Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan keputusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Akhirnya, terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan balamati (pengawal kerajaan) yang berjumlah kecil, serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan Kidung Sunda bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari berbagai pihak pejabat dan bangsawan Majapahit. Hal ini dikarenakan mereka menganggap bahwa tindakan Gajah Mada sangatlah ceroboh dan gegabah.

Dia dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan Raja Hayam Wuruk sendiri. Peristiwa yang penuh kemalangan ini menandai turunnya karier Gajah Mada, karena Hayam Wuruk kemudian menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo).

Meski tindakan ini tampak sebagai penganugerahan, hal tersebut dapat ditafsirkan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun. Tanah Madakaripura letaknya jauh dari ibu kota Majapahit.

Gajah Mada pun mangkat pada 1364 dan setelah itu meninggal karena sakit. Dengan meninggalnya Gajah Mada, kebesaran Majapahit pun kian surut.

Peristiwa tersebut juga menimbulkan beberapa reaksi yang mencerminkan sebuah kekecewaan masyarakat Sunda, yaitu diberlakukannya peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Beberapa reaksi kekecewaan masyarakat Sunda lainnya adalah tidak adanya jalan yang menggunakan nama Gajah Mada atau Majapahit di Kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sebagai pusat budaya masyarakat Sunda.

Pada 6 Maret 2018, ??Soekarwo (Gubernur Jawa Timur), Ahmad Heryawan?? (Gubernur Jawa Barat), dan Sri Sultan ??Hamengkubuwana X (Gubernur Yogyakarta) menggelar Rekonsiliasi Budaya Kerukunan Budaya Sunda–Jawa di Hotel Bumi Surabaya.

Mereka sepakat untuk mengakhiri masalah pasca-Bubat dengan mengganti nama jalan arteri di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. Satelit telekomunikasi Indonesia yang pertama dinamakan Satelit Palapa, merupakan bentuk penghormatan terhadap Gajah Mada sebagai pemersatu telekomunikasi rakyat Indonesia.

Tidak hanya itu, nama Gajah Mada juga digunakan sebagai nama universitas terbaik di Yogyakarta, yaitu Universitas Gadjah Mada.

Magdalena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Candi Muncar Di Wonogiri Butuh Sentuhan Swasta

Sen Sep 11 , 2023
Menoreh.co, Wonogiri – Wisata Candi Muncar di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri memiliki pesona alam yang indah. Tebing yang menjulang tinggi dan bukit-bukit yang mengelilingi tempat ini menambah eksotisme wisata ini. Meski bernama Candi Muncar, tempat yang terletak di ketinggian 1170 mdpl ini justru tidak terdapat bangunan candi, melainkan […]

Kamu mungkin suka