Sebuah Kisah Kiai Sadrah

Sejarah hari ini bertepatan dengan wafatnya Kiai Sadrach yang meninggal dunia tanggal 14 November 1924 atau tepat 95 tahun silam. Meskipun bergelar kiai, Sadrach merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam misi menyebarkan ajaran Kristen alias penginjil di tanah Jawa.
Sadrach memang bukan penganut Nasrani sejati.

Ia dilahirkan dari keluarga petani sederhana di Jepara dengan nama Radin pada 1835. Sejak kecil, Radin sudah berkelana, mencari pengalaman hidup sekaligus mengurangi beban keluarganya yang miskin.

Dari hasil penelitian Silas Sariman bertajuk “Strategi Misi Sadrach: Suatu Kajian yang Bersifat Sosio Historis” yang terhimpun dalam Jurnal Abdie (Vol. 3, No. 1 April 2019) terungkap bahwa Radin kemudian diadopsi oleh keluarga Islam-Jawa yang cukup berada. Radin disekolahkan ke sebuah lembaga pendidikan umum yang juga mengajarkan
pendalaman agama Islam.

Selain itu, tulis Sariman dalam risetnya, Radin juga sempat mempelajari ilmu kebudayaan Jawa kepada Sis Kanoman atau Pak Kurmen di Semarang.
Saat berusia 17 tahun, tulis I. Sumanto dalam buku Kyai Sadrach: Seorang Pencari Kebenaran (1974), Radin belajar di salah satu pondok pesantren di Jombang, JawaTimur.

Ia semakin memperdalam ajaran agama Islam dan mendapat tambahan
nama menjadi Radin Abas. Tak hanya di Jombang, Radin juga memperdalam ilmu dan ajaran Islam di beberapa pondok pesantren lainnya di Jawa Timur, termasuk di Ponorogo.

“Kiai” Kristen

Suatu hari, Radin pergi ke sebuah desa bernama Mojowarno. Di desa ini, ia bertemu dengan Jellesma, seorang misionaris Belanda. Inilah untuk pertamakalinya Radin bersinggungan dengan ajaran Kristen, tulis Sumanto dalam bukunya.

Jellesma pernah mengkristenkan seorang petani asal Jepara –daerah yang sama dengan tempat lahir Radin– bernama Ngabdullah. Kelak, Ngabdullah dikenal dengan nama Kiai Ibrahim Tunggul Wulung, penyebar ajaran Kristen yang bermukim di lereng Gunung Kelud, Kediri.

Fragmen perjalanan hidup Ngabdullah alias Kiai Ibrahim Tunggul Wulung ini dikisahkan kembali oleh C. Guillot dalam hasil penelitiannya yang sudah dibukukan dengan judul Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa (1985).

Setelah cukup lama berkelana mencari jati diri, termasuk dengan nyantri di berbagaipesantren dan mengalami banyak pengalaman batin, Radin kembali ke Semarang. Ia tinggal di Kauman yang lekat sebagai daerah komunitas muslim.

Radin bertemu seorang misionaris bernama W. Hoezoo di Semarang. Soetarman Soediman Partonadi dalam Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya (2001) menjelaskan, Hoezoo dikirim ke Jawa pada 1849 oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) atau Serikat Misionaris Negeri Belanda.

Selanjutnya, seperti yang tercatat dalam penelitian Silas Sariman, Radin belajar dan berguru kepada Hoezoo. Ia juga mengunjungi Sis Kanoman atau Pak Kurmen yang dulu pernah membimbing Radin.

Dari Pak Kurmen inilah Radin diperkenalkan dengan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung dan akhirnya masuk agama Kristen pada 14 April 1867 serta berganti nama menjadi Sadrach. Lantaran ia pernah mondok dan punya pengikut, maka Radin pun kemudian dikenal sebagai Kiai Sadrach.

Sejak saat itu, Kiai Sadrach melakukan tugasnya sebagai penyebar misi Kristen berkeliling Jawa. Dari Batavia, Jawa bagian tengah, kemudian ke Jawa bagian timur, sampai kemudian ia diangkat anak oleh seorang pendeta di Purworejo pada 1869.

Kiai Sadrach pernah ditangkap aparat kolonial Hindia Belanda dan dipenjara selama 3 bulan. Ia dianggap sebagai ancaman karena memiliki pengaruh kuat di kalangan rakyat. Beruntung, Sadrach kemudian dibebaskan lantaran tidak ada cukup bukti yang bisa menjeratnya.

Di Purworejo, Kiai Sadrach membangun gereja dengan arsitektur unik. Tidak ada tanda salib di bagian atas gereja, melainkan lambang cakra. Selain itu, tata letak bangunan bagian dalam gereja ini hampir mirip dengan masjid.

Kiai Sadrach mengabdikan sisa hidupnya di Purworejo hingga wafat pada 14 November 1924 dalam usia yang sudah sangat lanjut, 89 tahun. Sejak akhir abad ke-19, catat M.T. Arifin dalam Muhammadiyah Potret yang
Berubah (1990), Purworejo telah menjadi pusat Kelompok Sadrach yang
menyebarkan ajaran Kristen di berbagai daerah pedalaman di Jawa Tengah, melanjutkan misi sang “kiai”.(ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Candi Umbul Magelang Bekas Pemandian Putri Raja

Sel Mar 2 , 2021
Menoreh.co – Sebuah situs bersejarah berusia ratusan tahun di Magelang, Jawa Tengah, yang konon menjadi tempat pemandian putri raja masih dapat digunakan hingga kini. Dikutip dari Tribunnews Jogja, situs kuno bernama Candi Umbul ini konon berasal dari zaman Kerajaan Mataram Kuno sejak abad 8 Masehi. Lokasinya berada di di Dusun […]

Kamu mungkin suka