Novelis Remy Silado Remajanya di Semarang

MENOREH.CO – Yusbal Anak Perang Imanusel Panda Abdiel Tambayong atau yang dikenal sebagai Remy Sylado merupakan sastrawan, penyair, novelis, dramawan, cerpenis, penyanyi, aktor, wartawan, dan dosen berdarah Indonesia.

Remy Sylado lahir di Malino, Makassar, Sulawesi Selatan pada 12 Juli 1923. Remy Sylado menghabiskan masa kecil dan remajanya di Semarang, Jawa Tengah.

Ayahnya bernama Johannes Hendrik Tambajong dan ibunya Juliana Caterina Panda.

Remy dikenal sebagai penulis cepat karena bisa menulis 2-3 novel tebal hanya dalam satu tahun. Baginya, menulis satu buku dalam setahun sangat tidak efisien dan buang-buang waktu.

Remy Sylado menguasai berbagai bahasa asing seperti Mandarin, Jepang, Arab, Yunani, Inggris, dan Belanda.

Sejak kecil, Remy Sylado sudah gemar membaca buku. Ia sering berkunjung ke Pasar Bulu dan Pasar Johar untuk berburu komik-komik tua dari Amerika serta berbagai buku bacaan lain.

Ketika remaja, dia sudah produktif menulis cerpen, novel, puisi, naskah drama, esai, dan syair lagu. Remy Sylado menulis novel pertamanya dengan tajuk Inani Keke yang berlatar sejarah di usianya yang belum genap 16 tahun.

Walhasil, Remy telah memiliki ribuan karya termasuk karya puisi, novel, drama, dan lagu. Bahkan, ia juga memiliki karya tulis berupa teologi, kamus, hingga ensiklopedia.

Tidak hanya aktif menulis, waktu remajanya juga ia habiskan dengan bermain musik. Keluarganya merupakan penggemar musik klasik, khususnya musik Frederick Handel dan Beethoven.

Sementara itu, Remy menyukai grup musik Led Zeppelin, Grand Funk, Railroad, dan The Beatles.

Di Sekolah Menengah Atas (SMA), Remy mendirikan grup dengan nama Remy Sylado Company.

Semenjak itu, Remy mulai menggunakan julukan atau nama pena Remy Sylado. Terkadang ia hanya menulisnya dengan angka 23761.

Nama Remy Sylado bersumber dari chord pertama lirik lagu All My Loving karya The Beatles sekaligus merupakan notasi dari re-mi-si-la-do.

Kemudian, Remy melanjutkan pendidikan sarjananya di Akademi Seni Rupa, Solo. Begitu lulus bukannya menjadi seorang seniman, ia justru bekerja sebagai seorang wartawan.

Mulanya, Remy menulis resensi dari film bertajuk Membangun Kebudayaan Nasional untuk Kamerad Mao Zedong karya He Tjing-Tje. Ia menulis resensi tersebut dengan alasan merasa aneh dengan film tersebut.

Rupanya, tulisan tersebut dimuat di surat kabar Harian Sinar Indonesia. Saat itulah ia mulai bekerja sebagai seorang wartawan. Ia bekerja sebagai seorang wartawan harian di Sinar Harapan sejak tahun 1963-1965.

Pada 1965, Remy bertugas sebagai Redaktur Pelaksana di media harian Tempo. Ia sempat berpindah-pindah ke majalah Top, Fokus, hingga Vista.

Pada 1972, Remy menjadi redaktur pelopor rubrik Puisi Mbeling di Majalh Aktuil, Bandung.

Mbeling berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti nakal, susah diatur, dan memberontak. Untuk itu, puisi mbeling tidak mengikuti aturan tertentu dalam pemilihan bahasanya.

Puisi mbeling merupakan gerakan yang dibuat dengan tujuan melakukan pemberontakan terhadap rezim Orde Baru yang dianggap kolot dan hipokrit.

Ketika Remy melakonkan dramanya yang bertajuk Messiah II, saat itulah gerakan tersebut mulai disebarkan. Namun, saat itu ia belum menggunakan istilah mbeling.

Sebutan mbeling baru digunakan saat ia melakonkan drama kedua miliknya bertajuk Genesis II di Bandung.

Dengan mbeling, Remy berkeinginan untuk mendobrak gagasan yang menyatakan bahwa bahasa dalam puisi harus diatur dan dipilah-pilih bergantung pada stilistika standar.

Menurutnya gagasan tersebut akan berpengaruh pada tulisan kaum muda yang tidak dapat berkarya dengan bebas.

Baginya, bahasa puisi dapat dikutip dari mana saja bahkan bahasa alay, gaul, sindiran, ejekan, hingga jorok sekalipun.

Pada dasarnya, makna atau inti dari puisi itulah yang paling penting sehingga dapat menyentuh hati dan pikiran masyarakat serta memiliki manfaat untuk masyarakat.

Remy berpesan kepada seluruh penyair muda agar tidak berkecil hati ketika puisi mereka tidak ditanggapi. Yang harus dipikirkan ialah bagaimana puisi tersebut dapat menyuarakan dengan lantang gagasan yang dimiliki oleh sang penyair.
Karena bagian terpenting dari seorang penyair ialah gagasan yang dimilikinya. Sejak memutuskan untuk pindah ke Bandung, Remy semakin produktif menulis. Ia menulis dengan sangat cepat hasil dari pekerjaannya sebagai seorang wartawan.

Pada akhir tahun 1969, Remy mendirikan sebuah grup Teater 23761 di Bandung. Di sana ia mengajarkan Dramaturgi, Ikonografi, dan Tata Rias kepada seluruh anggota.

Berkat novel Kerudung Merah Kirmizi, Remy mengantongi penghargaan Khatulistiwa Award pada tahun 2002.

Kemudian bersama dengan Sitor Situmorang dan Sitok Srengenge, Remy mengantongi penghargaan dari Pusat Bahasa pada tahun 2006.(mag)

Magdalena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Panembahan Senopati Pendiri Mataram Islam

Sab Apr 1 , 2023
MENOREH.CO – Panembahan Senopati atau juga dikenal sebagai Danang Sutawijaya adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Mataram Islam. Ia adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan, salah satu orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, pendiri Kerajaan Pajang. Danang Sutawijaya, yang ikut ayahnya bertempur untuk menaklukkan Arya Penangsang dalam perang saudara […]

Kamu mungkin suka