Keunikan Kesenian Gebyog Dari Desa Jembrana Bali

MENOREH.CO, Jembrana, 1 Juli 2024 Bungbung Gebyog dari Jembrana, Bali, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kesenian tradisional lainnya. Kesenian ini menggunakan alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara sederhana.

Gamelan Bungbung Gebyog terdiri dari delapan buah bumbung dan alat lain, seperti lesung dan papan. Kedelapan bumbung tersebut menggunakan laras pelog empat nada. Bungbung Gebyog dimainkan dengan menghentakkan bumbung pada papan dan lesung.

Awalnya, masyarakat Dangin Tukadaya, Jembrana, menggunakan alat penumbuk padi yang disebut “luu” dan “kentungan”. Bunyi yang dihasilkan dari alat ini menginspirasi mereka untuk menciptakan sebuah kesenian baru yang disebut Bungbung Gebyog.

Bungbung Gebyog awalnya dimainkan para wanita saat mengolah padi. Kesenian ini erat kaitannya dengan Dewi Sri, dewi padi dalam kepercayaan Hindu. Bungbung Gebyog dipercaya sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang berlimpah.

“Bungbung Gebyog di Desa Dangin Tukadaya ini berdiri sekitar tahun 1975. Kesenian ini dulu sering dimainkan untuk rasa syukur setelah panen raya oleh ibu-ibu,” ungkap I Gusti Ketut Rai Astawa, salah satu pegiat seni Bungbung Gebyog di Jembrana Sabtu (4/5/2024).

Kesenian tradisional ini seiring perkembangannya mulai dimainkan untuk mengiringi tarian dan drama tari. Bungbung Gebyog juga mengalami perkembangan dalam bentuk pementasan.

Meski memiliki sejarah panjang, kesenian Bungbung Gebyog saat ini tengah vakum karena kurangnya regenerasi pemain. Astawa saat ini sedang berusaha membangkitkan kembali kesenian ini.

“Saat ini memang masih sangat jarang tampil. Dari pemerintah juga berencana akan membangkitkan kembali kesenian ini (Bumbung Gebyog). Harapannya ya agar kesenian ini dapat dilestarikan kembali di Jembrana,” ujar Astawa.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara, menjelaskan pihaknya saat ini tengah melakukan proses pencatatan kesenian Bumbung Gebyog untuk masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

“Masih dalam proses WBTB, mudah-mudahan tahun ini bisa diterima. Kendala dalam pengajuan WBTB selama ini adalah kajian akademis, sehingga ke depan harus ada yang bisa membuatkan narasi terkait hal tersebut,” kata Sapta Negara.

Saat ini sudah ada enam budaya Jembrana yang sudah ditetapkan sebagai WBTB, yakni Makepung, Jegog, Berko, Tenun Cagcag, Kendang Mebarung, dan Bumbung Kepyak.

“Penetapannya sebagai WBTB dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang unik bagi Kabupaten Jembrana,” jelas Sapta Negara.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kisah Tragis Ibnu Santoro: Dosen yang Hidupnya Berakhir di Kuburan Massal Situkup

Sel Jul 2 , 2024
MENOREH.CO, Wonosobo, 2 Juli 2024 – Buku “Riwayat Terkubur: Kekerasan Antikomunis 1965-1966” karya John Roosa membuka lembaran sejarah gelap Indonesia dengan mengungkap kisah tragis Ibnu Santoro, seorang dosen yang hidupnya berakhir di kuburan massal Situkup, Wonosobo. Situkup, yang terletak di Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, menjadi saksi bisu dari peristiwa […]
Ilustrasi Kuburan Massal

Kamu mungkin suka