Kerajaan Ayutthaya Cikal Bakal Thailand

MENOREH.CO,JAKARTAKerajaan Ayutthaya adalah salah satu kerajaan di Thailand yang didirikan pada 1351. Kerajaan yang didirikan oleh Ramathibodi I atau Uthong di Kota Ayutthaya ini dianggap sebagai cikal-bakal negara Thailand.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Ayutthaya aktif dalam melakukan perdagangan dengan beberapa negara asing, seperti China, India, Jepang, Persia, dan beberapa negara Eropa.

Kemajuan Ayutthaya dapat dilihat pada bidang kesenian, sastra, dan pendidikan. Hingga pada akhirnya, Kerajaan Ayutthaya runtuh pada 1767 ketika diperintah oleh Raja Ekkathat.

Sejarah berdirinya Kerajaan Ayutthaya didirikan pada 1351 oleh Uthong atau Ramathibodi I di lembah Sungai Chao Phraya. Uthong diperkirakan sebagai keturunan dari Lao Khun Borom, nenek moyang dari orang-orang berbahasa Tai Barat Daya.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa Uthong lahir dari keluarga pedagang China di daerah Phetburi. Uthong menjadi soerang tokoh besar yang mendirikan Kerajaan Ayutthaya setelah menikah dengan putri keluarga penguasa Suphanburi.

Setelah itu, Uthong mendirikan Kerajaan Ayutthaya dan membangun ibu kota di pulau yang ada di Sungai Chao Phraya. Setelah naik takhta menjadi raja pertama Kerajaan Ayutthaya, Uthong mendapatkan gelar Ramathibodi I.

Pada 1360, Ramathibodi I menetapkan Buddha Theravada sebagai agama resmi Kerajaan Ayutthaya. Ramathibodi I juga menyusun hukum yang berdasarkan Kitab Dharmashasra dan adat Thailand.

Raja-raja Kerajaan Ayutthaya Ramathibodi I atau Uthong (1351-1369) Ramesuan (1369-1370) Borommaracha I (Pa-ngua) (1370-1388) Thong Chan (1388) Ramesuan (1388-1395) Ramaratcha (1395-1409) Inthararatcha (1409-1424) Borommaratcha II (Samphraya) (1424-1448) Boromma Trailokanat (1448-1488) Boromaratcha III (Inthararatcha II) (1488-1491) Ramathibodi II (1491-1529)

Borommaratcha IV 91529-1533) Ratsada 91533) Chairacha (1534-1546) Yotfa (bersama bupati (1546-1548) Worawongsa (1548) Chakkraphat (1548-1568) Mahin (1568-1569) Maha Thammaracha (Sanpet I) (1569-1590) Naresuan Agung (Sanpet II) (1590-1605) Ekathotsarot (Sanpet III) (1605-1620)

Si Saowaphak (Sanpet IV) (1620-1621) Songtham (Intharacha) (1621-1629) Chettha (1629) Athittayawong (1630) Prasat Thong (Sanpet V) (1630-1655) Chai (Sanpet VI) 91655) Suthammaracha (Sanpet VII) (1655) Narai yang Agung (1656-1688) Petratcha (1688-1703) Süa 91703-1709) Phumintharacha (Sanpet IX, Thai Sa) (1709-1733) Boromakot (Boromarachathirat III) (1733-1758) Uthumpon (Boromarachathirat IV) (1758) Suriyamarin atau Ekkathat (Boromarachathirat V) (1758-1767)

Sebelum menggunakan bahasa Siam (Thailand), masyarakat Ayutthaya menggunakan bahasa Khmer untuk berkomunikasi. Meski Buddha Theravada dijadikan sebagai agama resmi kerajaan, beberapa wilayahnya ada juga ada yang mempraktikkan Buddha Mahayana dan Islam.

Dalam masyarakat Ayutthaya, unit dasar organisasi sosial adalah komunitas desa, yang terdiri dari rumah tangga keluarga besar. Umumnya, ketua yang terpilih memberikan kepemimpinan untuk proyek-proyek komunal.

Hak atas tanah berada pada kepala desa, yang memegangnya atas nama komunitas, meski pemilik tanah pertanian tetap menikmati penggunaan tanah selama mereka mengolahnya. Dengan lahan yang tersedia untuk budidaya, kelangsungan hidup negara bergantung pada sektor pertanian dan pertahanan.

Kerajaan Ayutthaya ditandai dengan perkembangan pesat di bidang seni, sastra, dan wilayah kekuasaannya. Pada awal abad ke-18, kerajaan ini telah menguasai kota-kota penting, seperti Martaban, Ligor atau Nakhon Sri Thammarat, Tenasserim, Junk Ceylon atau Pulau Phuket, dan Singora atau Songkhla.

Di bidang sastra, kisah-kisah dalam bentuk Ramakien (wiracarita nasional Thailand) berkembang dan menjadi sumber sastra di Ayutthaya. Ramakien kemudian berkembang menjadi drama klasik Khon, yang merupakan seni pertunjukan drama tari di Thailand.

Di Kerajaan Ayutthaya, sebagian besar karya sastranya berbentuk puisi. Tradisi puisi Thailand awalnya didasarkan pada bentuk puisi asli seperti rai, khlong, dan klon. Sementara di bidang pertanian, kerajaan ini mengalami kejayaan dengan menghasilkan beberapa komoditas, seperti padi, beras, dan biji-bijian.

Runtuhnya Kerajaan Ayutthaya , yang bertetangga dengan Burma, dari Dinasti Konbaung, terlibat konflik militer pada 1759. Burma melakukan invasi terhadap Ayutthaya, yang menyebabkan lepasnya wilayah kota Pelabuhan Tavoy.

Peperangan berlangsung selama beberapa tahun, hingga pada 1760-an, beberapa kota penting Ayutthaya telah jatuh ke tangan Burma. Bahkan, pertempuran ini pada akhirnya meruntuhkan Kerajaan Ayutthaya pada 1767, ketika di bawah pemerintahan Ekkathat sebagai raja terakhirnya.

Sumber: Kompascom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sejarah Kedatangan Bangsa Belanda Ke Indonesia

Sel Okt 3 , 2023
MENOREH.CO-Sejarah kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia awalnya dilatarbelakangi tujuan untuk mencari rempah. Kapal-kapal bangsa Belanda pertama kali masuk perairan kepulauan Indonesia pada 1596 masehi, berpuluh-puluh tahun setelah kedatangan Portugis dan Spanyol. Sebagaimana 2 bangsa Eropa terakhir, kedatangan kapal bangsa Belanda ke nusantara semula dilatarbelakangi tujuan untuk mencari rempah. Usaha pencarian […]

Kamu mungkin suka