Cerita ‘Taubat’ nya Raja Pemburu burung

Menoreh.co – Ardin Mokodompit (28) salah seorang mantan pemburu satwa burung memilih utnuk membiarkan hewan hidup bebas di alamnya.

Menurut dia membiarkan hewan hidup di habitatnya akan lebih menghasilkan uang daripada sekadar memburu untuk dijual.

Hal itu dibuktikan ketika dirinya menjadi pemandu wisata Ia biasa mengantarkan wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengamati burung dan satwa lain di Kawasan Hungayono, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Hal itu dinilai lebih menguntungkan daripada sekadar memburu dan menjualnya.

“Saya hafal tempat di mana burung biasa berada pada jam-jam tertentu, termasuk sarang tarsius,” kata Ardin Mokodompit, Minggu (5/6/2022). Kemampuan mengetahui perilaku satwa ini menjadi kunci keberhasilannya sebagai pemandu wisata.

Dari pengetahuan inilah, dia dipercaya membawa banyak wisatawan di sekitar Taman Nasional. “Dari pada ditembak untuk dimakan paling-paling untuk mencukupi kebutuhan sehari, harganya juga tidak seberapa.

Kalau satwa dibiarkan hidup, wisatawan akan terus datang. Tuhan akan terus memberi rezeki melalui satwa-satwa ini,” kata Ardin. Sebagai pemandu wisata lokal yang paham daerahnya, dia benar-benar merasakan manfaat pelestarian satwa untuk menunjang ekonomi keluarga.

Ardin yang sekarang berbeda dengan Ardin yang dulu. Semasa remaja, dia adalah pemburu satwa, hewan apa saja yang diburunya. Dia dan banyak teman kampungnya biasa mencari hewan di hutan atau di kebun warga.

Semakin banyak yang didapat, semakin membanggakan. Bahkan akan lebih bergengsi lagi jika mampu membunuh hewan yang dianggap sulit dicari, salah satunya julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix).

Julang Sulawesi dalam Bahasa lokal Gorontalo disebut burung alo yang dipercaya sebagai burung raja yang memiliki tuah. Bahkan kepala burung ini digantung di rumah warga sebagai jimat tolak bala. Tidak heran burung endemic Sulawesi ini banyak diburu orang.

“Saya dulu pernah dijuluki raja tembak burung karena memiliki kemampuan mendapatkan banyak hewan buruan,” ujar Ardin. Lain cerita Ardin Mokodompit, lain pula cerita Basri Lamasese (47), warga Dusun 3 Desa Molibagu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara.

Petani gula aren ini awalnya adalah pemburu satwa dan telur maleo (Macrocephalon maleo) di Kawasan Batu Manangis. . Petani gula aren ini awalnya adalah pemburu satwa dan telur maleo (Macrocephalon maleo) di Kawasan Batu Manangis.

“Saya berburu tidak menggunakan senjata, hanya jerat dari tali,” kata Basri Lamasese. Dalam kesehariannya, dia menyadap air nira pohon aren (Arenga pinnata) di kebunnya di batu manangis. Saat memanjat pohon aren, dia juga memasang tali jerat yang memiliki 7-9 mata.

Tidak terhitung banyaknya jerat karena di kawasan batu manangis banyak terdapat pohon aren.  Selain itu juga dia mencari telur maleo di tempat yang sama. Burung endemik Sulawesi ini juga meletakkan telur-telurnya di dalam tanah karena terdapat panas bumi (geothermal).

Aktivitas perburuan satwa dilakukan Basri dari 1997 hingga 2017. Salah satu jeratnya pasti mendapatkan burung, termasuk ayam hutan dan maleo. Ayam hutan yang didapat biasanya dijual. Sementara maleo yang terjerat akan dipotong untuk dikonsumsi.

Menurutnya daging seekor maleo bisa untuk makan empat rumah tangga. “Telur maleo biasa kami konsumsi. Kalau ada yang tanya biasanya ditukar dengan Rp 10.000,” kata Basri Lamasese mengenang masa lalunya.

Di masa lalu, dia setiap hari berangkat ke kebun untuk menyadap nira. Dari rumah ia hanya berbekal nasi putih. Sesampainya di kebun, dia mendapatkan lauk dari burung buruan yang terjerat, juga telur maleo.

Aktivitas ini akhirnya disudahi setelah ini berinteraksi dengan staf Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang mendampingi penguatan kelompok tani aren Modaga no Suangge. Bahkan semangat membiarkan satwa hidup dalam habitatnya semakin kuat setelah ia bermimpi bertemu Putri Deku, leluhur bangsa Bolango.

Dalam mimpinya, Putri Deku sangat marah kepada Basri yang telah mengganggu dan membuat takut burung peliharaannya. Dari sinilah Basri Lamasese berubah sikapnya dari aktif memburu burung dan telur maleo, menjadi penggerak petani gula aren.

Pada 18 April 2018, dia bersama para petani lainnya membentuk kelompok Modaga No Suangge yang kemudian mendapat pendampingan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Resort Pantai Selatan. Pada 18 Oktober 2018, Modaga No Suangge membangun bak penetasan telur maleo sederhana secara swadaya dan melakukan pencarian telur untuk dipindahkan.

Memindahkan telur maleo merupakan upaya menjaganya dari predator alam, seperti biawak (Varanus) yang acap menggali tanah dan memangsa telur-telur maleo. Juga beberapa jenis burung elang yang memangsa anakan maleo yang baru menetas.

Kisah para mantan pemburu satwa ini diceritakan pada webinar memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (Biota).

​Ardin dan Basri bercerita bersama Indra Exploitasia Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta ST Agung Triono Hermawan Kepala SPTN Wilayah II Doloduo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kisah Candi Borobudur Tak Pernah Luntur

Jum Jun 10 , 2022
Menoreh.co – Candi Borobudur selalu menawarkan banyak cerita. Rencana pemerintah Indonesia membatasi pengunjung Candi Borobudur dengan memasang tarif sebesar Rp750.000 bagi wisatawan domestik yang ingin naik ke area stupa candi telah memicu perbincangan terkait kondisi fisik monumen Buddha terbesar di dunia tersebut. Sejak selesai dipugar pada 1983, ditambah penetapan statusnya […]

Kamu mungkin suka