Candi Muncar Di Wonogiri Butuh Sentuhan Swasta

Menoreh.co, Wonogiri – Wisata Candi Muncar di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri memiliki pesona alam yang indah. Tebing yang menjulang tinggi dan bukit-bukit yang mengelilingi tempat ini menambah eksotisme wisata ini.

Meski bernama Candi Muncar, tempat yang terletak di ketinggian 1170 mdpl ini justru tidak terdapat bangunan candi, melainkan sebuah telaga. Telaga itu terbentuk karena ada sebuah bendungan pada sungai yang berhulu pada pegunungan Lawu selatan. Sehingga tidak jarang orang menyebut tempat ini sebagai Bendungan Candi Muncar.

Air pada telaga Candi Muncar masih bening. Di dalam telaga terdapat sejumlah ikan emas. Pengunjung biasa memberi makan ikan dengan membeli pakan di warung-warung di tepi telaga. Udara di tempat ini pun masih segar dan asri.

Waktu tempuh ke Candi Muncar dari pemukiman warga Desa Bubakan sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor. Akses Candi Muncar pun sudah cukup baik. Jalan menuju ke Candi Muncar merupakan jalan beton. Tiket masuk ke Candi Muncar senilai Rp5.000/lembar.

Keindahan Candi Muncar belum dibarengi dengan pengelolaan yang baik dan terstruktur. Candi Muncar masih dikelola perorangan. Padahal lahan di Candi Muncar merupakan lahan milik Perhutani dan pemerintah desa (Pemdes) Bubakan.

Pengelola Candi Muncar, Sarno, mengatakan sebagai bagian warga Bubakan memiliki tanggung jawab merawat Candi Muncar. Pemdes belum banyak memberikan perhatian pada tempat tersebut. Sarno menyebut Candi Muncar belum bisa dikatakan sebagai wisata.

“Ini belum bisa dikatakan wisata. Saya menyebutnya pelestarian. Ini belum layak dikatakan wisata karena belum ada organisasi yang mengurus tempat ini. Pun pembangunannya belum maksimal. Belum ada tempat duduk dan lain sebagainya. Belum tertata sepenuhnya,” kata Sarno saat ditemui Solopos.com di Candi Muncar.

Sarno meyakini Candi Muncar cepat atau lambat akan menjadi tempat pariwisata di Girimarto sepanjang ada dana masuk mendukung pembangunannya. Saat ini pengelolaan dan operasional Candi Muncar hanya bergantung dari tiket masuk pengunjung. Sarno lebih senang menyebutnya sebagai dana sumbangan.

“Di Candi Muncar ada sembilan orang saat hari biasa dan 11 orang saat Sabtu-Minggu [bertugas menjaga parkir, menjaga loket, hingga pengamanan di area dalam Candi Muncar],” katanya.

Kepala Desa (Kades) Bubakan, Maryanto, mengakui Pemdes setempat belum memberikan perhatian lebih kepada Candi Muncur. Sebab tidak ada alokasi anggaran untuk pengembangan wisata.

Sementara itu, Kepala BKPH Perhutani Lawu Selatan, Muhajir, menerangkan Perhutani sudah mencoba mengajak Sarno dan Pemdes Bubakan untuk bekerja sama mengelola Candi Muncar.

Namun kedua pihak belum menanggapi ajakan Perhutani. Padahal Perhutani sudah mencoba beberapa kali menggandeng Sarno sebagai pengelola maupun Pemdes yang juga memiliki hak lahan.

“Perhutani memiliki 70 persen lahan di Candi Muncar. Sedangkan sebagian lagi milik kas Desa Bubakan. Selama ini Perhutani sama sekali tidak dilibatkan dalam pengelolaan. Padahal sebenarnya Perhutani memiliki hak di situ,” ungkap Muhajir

Magdalena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tuk Bima Lukar, Pandawa dan Kurawa Berlomba Membuat Sungai

Sen Sep 11 , 2023
Menoreh.co, Dieng – Di Dataran Tinggi Dieng, ada beberapa sumber mata air yang disakralkan. Salah satunya adalah Tuk Bima Lukar. Tidak terlalu sulit menemukan mata air ini. Jika Anda datang dari arah Wonosobo, mata air ini terdapat di sisi sebelah kanan gapura selamat datang di Dieng. Tuk Bima Lukar merupakan […]

Kamu mungkin suka