Candi Dieng adalah Peradaban Masa Depan

Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo.

Dari sejumlah candi disini banyak bercerita tentang masa lalu yang menjadi peradaban di masa depan. Budaya dan lingkungan.

Di kawasan Dieng pernah ditemukan prasasti bertuliskan huruf Jawa kuno yang menunjukkan tahun 808 M dan sampai saat ini menjadi prasasti tertua dengan tulisan Jawa kuno yang diketahui.

Arca yang ditemukan di kawasan Dieng tersebut kini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Penemuan Kembali Candi Dieng Dalam buku The Indianized States of Southeast Asia (1968) suntingan George Coedès dan Walter F. Vella disebutkan bahwa bangunan-bangunan keagamaan yang ada di pegunungan Dieng tersebut berasal dari Kerajaan Kalingga (594-782 M).

Sejarah candi bercorak Hindu aliran Syiwa ini masih menyimpan misteri, termasuk asal-usul maupun pendirinya.

Candi Dieng disebut-sebut sebagai bangunan keagamaan tertua di Jawa. Dikutip dari situs resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, para ahli memperkirakan Candi Dieng dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya meskipun hingga kini belum ditemukan informasi tertulis mengenai asal-usul kompleks candi ini.

Kompleks Candi Dieng terdiri dari 8 bangunan. Para ahli memperkirakan bahwa Candi Dieng dibangun melalui dua tahap.

Tahap pertama meliputi Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, dan Candi Gatotkaca, diperkirakan dilakukan akhir abad 7 hingga abad 8.

Pembangunan berlanjut pada tahap kedua sampai sekitar tahun 780 M. Kompleks candi ini ditemukan kembali pada 1814 oleh seorang tentara Inggris yang kala itu sedang berwisata ke kawasan Dieng.

Saat itu, ia melihat ada sekumpulan candi yang tergenang air telaga. Pengeringan air telaga baru dilakukan pada 1856 yang dipimpin oleh Isidore van Kinsbergen.

Upaya pembersihan dilanjutkan pemerintah Hindia Belanda hingga tahun 1864, dengan Van Kinsbergen sebagai pencatat dan pengambil gambar.

Kompleks Candi Dieng terbagi menjadi 3 kelompok gugusan candi-candi dan dengan satu candi yang berdiri sendiri. Candi-Candi tersebut dinamakan dengan mengadopsi nama-nama dari tokoh atau istilah dalam epos Mahabarata.

Tiga kelompok candi tersebut adalah kelompok Arjuna, kelompok Gatotkaca, dan kelompok Dwarawati, dan satu candi yang berdiri sendiri adalah Candi Bima.

Kelompok Candi Arjuna Kelompok Candi Arjuna terdiri dari 5 candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Srikandi.

Candi Arjuna Berdenah dasar persegi dengan luas sekitar ukuran sekitar 4 m2. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 meter. Candi Semar Denah dasarnya berbentuk persegi empat membujur arah utara-selatan.

Batur candi setinggi sekitar 50 cm, polos tanpa hiasan. Candi Srikandi Candi ini terletak di utara Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk kubus.

Candi Sembadra Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Candi ini terlihat seperti bangunan bertingkat karena atapnya berbentuk kubus yang sama besar dengan ukuran tubuhnya.

Candi Puntadewa Seperti candi lainnya, ukuran Candi Puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 meter.

Kelompok Candi Gatotkaca Kelompok Candi Gatutkaca terdiri dari 5 candi yaitu, Candi Gatotkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Petruk, dan Candi Gareng. Sayangnya, candi yang masih dapat dilihat wujudnya hanya Candi Gatotkaca karena keempat lainnya hanya tersisa reruntuhannya saja.

Candi Gatutkaca berdiri dengan batur Candi setinggi sekitar 1 meter dibuat bersusun dua dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Berdenah segi empat dengan penampil di keempat sisinya.

Kelompok Candi Dwarawati Kelompok Candi Dwarawati terdiri dari 4 candi yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari.

Namun, seperti Candi Gatotkaca, Candi Dwarawati hanya memiliki satu candi yang masih utuh yaitu Candi Dwarawati. Candi Dwarawati memiliki bentuk yang mirip dengan Candi Gatotkaca, yaitu berdenah dasar segi empat dengan penampil di keempat sisinya.

Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 50 cm. Candi Bima Candi Bima sedikit lebih unik dibandingkan dengan candi lainnya di kawasan Candi Dieng karena terletak menyendiri di atas bukit.

Sesuai namanya, candi ini merupakan bangunan yang terbesar di antara candi lain di kawasan Candi Dieng. Di samping lokasi yang berbeda, bentuknya Candi Bima juga berbeda dari candi-candi di Jawa Tengah pada umumnya.

Kaki Candi Bima mempunyai denah dasar bujur sangkar, namun karena di setiap sisi terdapat penampil yang agak menonjol keluar, maka seolah-olah denah dasar Candi Bima berbentuk segi delapan. (purn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sejarah Manusia Purba Tidak Hanya Sekedar Cerita Kera

Sel Agu 2 , 2022
Menoreh.co – Sejarah Manusia Purba Tidak Hanya Sekedar Cerita Kera Pithecanthropus erectus adalah salah satu jenis manusia purba yang teridentifikasi berdasarkan penemuan fosil (tulang yang membatu) di Indonesia. Jika dilihat dari bahasa Yunani, Pithecantropus Erectus memiliki arti “manusia kera yang berjalan tegak”. Berdasarkan tulisan Hasnawati dalam buku Modul Sejarah Kelas […]

Kamu mungkin suka

%d blogger menyukai ini: