Aura Religi Kyai Langgeng dan Tidar

Makam di Gunung Tidar

Di Kota Magelang, Taman Kyai Langgeng dan Gunung Tidar menjadi magnet. Ribuan orang berkunjung ke dua tempat itu tiap hari. Untuk menikmati alam juga untuk mengenang sejarahnya.

Nama Taman Kyai Langgeng sebagai tempat wisata dan rekreasi di Kota Magelang memiliki nilai sejarah perjuangan saat masa penjajahan kolonial Belanda. Kyai Langgeng adalah nama seorang ulama yang juga penasihat Pangeran Diponegoro yang bernama asli Ki Ageng Suryokusumo. Ki Ageng masih keturunan Raja Mataram Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Ketika Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di wilayah kekuasaan kerajaan Mataram yang berada di sebagian wilayah Jawa Tengah, jiwa dan raga Kyai Langgeng diberikan sepenuhnya mengabdi kepada Sang Pangeran untuk mengusir penjajah Belanda sampai ke Magelang dan menetap hingga akhir hayatnya sekitar tahun 1829. Kyai Langgeng pun dimakamkan di areal taman yang dibangun tahun 1981 dan diresmikan 15 September 1987 ini.

Menurut Direktur Utama TKL, Edi Susanto nama diambuil sebagai bentuk penghormatan, pemerintah waktu itu mengambil nama Kyai Langgeng sebagai nama resmi taman ini. Makamnya beliau pun selalu dirawat dan tiap tahun selalu ada nyadran sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.

Keberadaan makam Kyai Langgeng menjadi daya tarik sendiri bagi taman yang meraih juara 3 Abiwara Pariwisata Jawa Tengah tahun 2019 kategori daya tarik wisata yang dikelola pemerintah ini. Selain juga daya tarik lain, seperti lebih dari 128 jenis tanaman/pohon langka yang terpelihara dengan baik dan wahana rekreasi yang beragam jenis, seperti mini Waterboom, pesawat terbang jenis FOKKER F-28 lengkap beserta mesin, becak mini, jurang kaca retak, jembatan cinta, ayunan dan sepeda di atas ketinggian, taman reptil, kereta mini, bombom car, dan lain sebagainya.

Bukan tanpa alasan tanaman langka ini ditanam di TKL. Sebelum tahun 1981, area TKL merupakan lahan kritis berupa pekuburan, persawahan, dan kebun yang kurang produktif. Lalu tahun 1981 diubah menjadi taman bunga dengan luas sekitar 27,5 hektar.

Wali Kota Magelang saat itu, Bagus Panuntun ingin penghijauan di lahan kritis ini dengan tanaman/pohon langka. Lalu, pada 15 September 1987 resmi menjadi objek wisata taman yang diresmikan Gubernur Jateng, H Ismail.

Sejumlah tanaman langka yang menjadi kebanggaan antara lain apel bludru, mentaok, mathoa, mundu, majiko, kunto bimo, kayu item, gowok, dammar, nogosari, dan lainnya. Adapun tanaman yang cukup asing di telinga, seperti ampupu, biola cantik, dewa daru, kecapi, kesambi, kupu-kupu, lobe-lobe, nam nam, nyamplung, pohon body, padmonaba, wali songo, dan sebagainya.

Destinasi wisata unggulan kedua di Kota Tidar adalah Gunung Tidar. Per Januari 2020 Gunung Tidar berstatus Kebun Raya dari sebelumnya Hutan Kota. Otomatis, pengelolaan berada di tangan Pemkot Magelang dan tiket masuk kawasan wisata berbasis alam dan religi pun masuk menjadi pendapatan asli daerah (PAD).

Keberadaan Gunung Tidar sudah begitu tersohor di tanah air, utamanya sebagai lokasi wisata religi. Hal ini tak lepas dari bersemayamnya makam ulama besar Syaikh Subakir, makam Kyai Sepanjang (tombaknya Syaikh Subakir) sepanjang 7 meter, dan petilasan Kyai Semar.

Dalam perkembangannya, Pemkot Magelang terus mengembangkan kawasan ini tidak hanya wisata religi, tapi juga rekreasi. Maka, dibangunlah fasilitas umum dan spot selfi (swafoto) serta gardu pandang di beberapa titik untuk melihat pemandangan Kota Magelang dari ketinggian. Meski untuk gardu pandang sampai saat ini belum dapat difungsikan.

Taman Kyai Langgeng (TKL) dan Gunung Tidar sudah sejak lama menjadi destinasi wisata andalan kota yang berjuluk Kota Sejuta Bunga ini. Keduanya sama-sama mengandalkan keasrian alam, TKL dengan taman yang ditumbuhi ratusan jenis tanaman langka, sedangkan Gunung Tidar masih asri dengan pohon khas pegunungan, seperti pinus dan cemara.

Bedanya, TKL dilengkapi beragam wahana dari bersifat edukasi hingga hiburan dan religi. Sementara Gunung Tidar lebih terasa kental sebagai wisata religinya, di samping juga hiburan dengan adanya tambahan spot selfi dan edukasi dengan seringnya sebagai lokasi outbond pelajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Lolos WBTB, Dalang Wayang Othok Obrol Tinggal Satu Orang

Kam Mar 31 , 2022
Menoreh.co – Berbagai jenis wayang hidup dan berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah wayang othok obrol yang kini hampir punah. Upaya pelestarian wayang itu terus dilakukan. WAYANG adalah pertunjukan kebudayaan masyarakat Nusantara. Kehadirannya sudah ada sejak era kerajaan HinduBuddha dengan berbagai macam lakon yang mengandung pesan luhur untuk penontonnya. Masyarakat […]

Kamu mungkin suka